Veny Lie Piano & Cinta untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Editor: nova.id / nova.id
Sabtu, 22 Juni 2013
Foto :

veny lie

"Foto: Adrianus Adrianto/NOVA "

veny lie dan muridnya

"Detik-detik membahagiakan bagi Veni, saat mendampingi dan membimbing anak didiknya dalam sebuah konser. (Foto: Dok Pri) "

Bagaimana awalnya membuat les musik untuk anak berkebutuhan khusus?

Ceritanya panjang. Semula saya buka kursus musik yang umum, bukan untuk anak berkebutuhan khusus. Suatu saat, ada salah satu orangtua bertanya, "Apakah Anda bersedia menerima kursus untuk anak saya yang berkebutuhan khusus?" Kata ibu itu, dokter menyarankan anaknya ikut terapi musik. Tanpa pikir panjang, saya menyanggupi. Berawal dari tahun 2003, saya kemudian terus menerima anak berkebutuhan khusus sampai sekarang.

Tentang mengajar piano, saya sebenarnya sudah melakukannya sejak lama sekali, bahkan semasa masih SMP. Saya, kan, keluarga yang suka musik. Bahkan, keluarga besar Papa, sebagian besar bisa main piano. Nah, sejak umur 3 tahun semasa tinggal di kota kelahiran di Pematang Siantar (Sumut), saya sudah les piano. Dua adik saya juga begitu, meski di antara tiga bersaudara, hanya saya yang menekuni musik sampai sekarang.

Tak hanya belajar, saya juga kerap ikut lomba dan berhasil menang, baik tingkat wilayah maupun nasional. Oleh guru piano, saya lalu dipercaya menjadi asistennya. Bahkan saat dia berhalangan, saya yang menggantikannya. Nah, tahun 1991 saat saya kelas 2 SMP, saya mulai memberi les privat.

Usia semuda itu sudah terpikir membuat les musik?

Ketika itu saya baru saja menang lomba. Namanya saja kota kecil, jadi prestasi saya sudah dianggap hebat. Tetangga minta saya mengajar anaknya yang kelas 6 SD. Lantaran usia enggak jauh berbeda, saya seperti mengajar teman sendiri. Awalnya saya tak menentukan biaya kursus. Namun orangtuanya tetap memberi amplop berisi uang Rp20 ribu.

Lama kelamaan, murid saya makin banyak. Di tahun kedua, saya mulai pasang harga. Patokannya sesuai dengan uang di amplop, ya, Rp20 ribu untuk tiap anak. Selanjutnya, saya terus mengajar sampai saya tamat SMA. Saya mengajar setelah semua urusan sekolah selesai.

Jumlah murid kian banyak, penghasilan pun sudah lumayan besar untuk ukuran Pematang Siantar. Namun saya ingin melanjutkan sekolah di Yamaha Conservatory, Jakarta. Tahun 1995 saya ke Jakarta dan indekos di kawasan Karet, dekat lokasi belajar, Jl. Gatot Subroto.

Wah, benar-benar ingin total di musik, ya?

Begitulah. Rupanya, jalan hidup saya memang mengajar musik. Suatu saat, sambil belajar saya ikut audisi untuk menjadi demonstrator. Saya pun lolos dan mulai membantu jadi demonstrator. Saya kerap main piano di berbagai mal. Usai main di mal, seorang ibu mendatangi saya, "Apakah Anda terima kursus?" Wah, saya senang sekali. Langsung saja saya iyakan. Kesempatan untuk buka privat pula.

Lama-kelamaan, murid saya kian bertambah. Usai kuliah, saya memberi privat di kawasan Green Garden, kawasan Jakarta Kota, dan sebagainya. Ke mana-mana, saya naik angkutan umum. Sehari bisa pindah ke tiga tempat. Biasanya sampai rumah sudah jam 21.00 malam. Capek, sih, tapi saya senang.

Lalu tahun 1997, saya berhasil menyelesaikan pendidikan. Sempat jadi guru musik juga di lembaga kursus musik, tapi kemudian mengundurkan diri dan memutuskan konsentrasi mengajar kursus sendiri sejak 1999. Kebetulan, sebagian besar murid saya yang berjumlah 50-an, tinggal di kawasan Kelapa Gading. Saya pun konsentrasi mengajar di Kelapa Gading sampai akhirnya punya rumah di sana.

Berapa usia murid-murid Anda?

Beragam, mulai dari TK sampai ibu-ibu. Namun untuk ibu-ibu tak sampai kuti ujian. Untuk anak-anak dan remaja, ada ujiannya. Saya bekerja sama dengan salah satu lembaga internasional. Ketika membuka kursus, saya sudah punya mimpi bikin konser. Awalnya, konser mini di rumah orangtua murid, kemudian saya berhasil menyelenggarakan konser di gedung.

Seiring waktu, jumlah murid saya makin banyak. Capek juga kalau harus mendatangi rumah mereka. Setelah menikah tahun 2002, saya memutuskan buka privat di rumah. Ternyata, animo masyarakat tak berkurang. Bahkan, murid saya mencapai lebih 100 orang. Tentu saya tak bisa lagi sendiri. Saya merekrut asisten yang saya ambil dari murid berbakat saya. Ternyata terus berjalan lancar, sampai sekarang saya punya 15 asisten. Saya juga menambah kursus biola dan gitar.

Sejak kapan mulai menerima murid berkebutuhan khusus?

Awalnya tak sengaja. Tahun 2003, salah satu orangtua murid mengatakan, "Mau enggak menerima anak autis? Menurut dokter, salah satu terapi untuk anak autis adalah menggunakan musik," ujarnya. Ternyata, ibu ini punya anak umur 3 tahunan yang autis. Tanpa pikir panjang saya jawab, "Silakan, ajak ke sini." Saat itu, saya belum paham apa itu autis.

Saya baru tahu, ternyata anak bernama Riko itu tak bisa diam. Panjat sana, panjat sini. Saya sempat bingung, kok, Riko enggak bisa diam. Jangankan latihan piano, duduk saja dia enggak bisa. Mamanya menjelaskan, begitulah kebiasaan anaknya. Di hari pertama, dia enggak bisa duduk sama sekali. Bukannya memberi kursus, saya malah jagain dia seharian.

Henry Ismono

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.