Jenny Ong: Dirikan Rumah Singgah Anak Sampai Dicurhati Orangtua Pasien

Editor: nova.id / nova.id
Rabu, 18 Maret 2015
Foto :

Jeny Ong

"Foto: Dok Pri "

kunjungan

"Kunjungan sosial ke Jaring Halus Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. (Foto: Dok Pri) "

jeny dan keluarga

"Menyempatkan diri menghabiskan waktu bersama keluarga. Dari kiri ke kanan: Alexander, Jenny Ong, Wilianto (suami), dan Alice Faustine. (Dok Pri) "

Belasan tahun berkecimpung di kegiatan sosial, alumni Fakultas Ekonomi HKBP Nomensen, Medan, yang akrab disapa "Bunda" oleh anak-anak asuhnya ini akhirnya bisa tersenyum gembira. Sebuah rumah singgah sementara bagi pasien anak yang sudah lama ia impikan, Rumah Anak Sehat, akhirnya terwujud di bawah Smilling Kids Foundation yang ia kelola. Minggu (22/2) lalu, Rumah Anak Sehat itu diresmikan.

Anda kelihatannya bahagia sekali hari ini. Boleh berbagi cerita?

Ya, saya sangat bahagia karena akhirnya impian lama saya bisa terwujud, yakni membuat rumah tinggal sementara bagi pasien anak yang menderita penyakit yang memerlukan penanganan serius dari dokter secara berkelanjutan sejak dini. Rumah tinggal sementara ini juga untuk para pendamping, seperti keluarga yang menunggui pasien anak.

Saya berterima kasih kepada teman-teman, dokter, para relawan, para donatur, dan semua pihak yang telah membantu dan men-support, hingga akhirnya bisa mewujudkan mimpi saya, mimpi anak-anak, dan mimpi kita semua.

Apa yang melatarbelakangi Anda membuat rumah singgah ini?

Saya merasa punya tanggung jawab yang besar untuk menyediakan rumah tinggal bagi anak-anak sakit yang berasal dari luar kota. Berdasarkan pengalaman saya selama belasan tahun berkecimpung di kegiatan sosial, salah satu penyebab pasien anak tidak tertolong nyawanya adalah karena keterlambatan orangtua dalam menangani penyakit yang diderita anak.

Orangtua anak, terutama yang berada di luar kota, seringkali tidak memiliki akses fasilitas kesehatan yang memadai. Kerap kali mereka membawa anak berobat setelah kondisinya memasuki tahap yang parah. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan biaya yang mereka miliki.

Nah, dengan didirikannya yayasan ini, kami bisa membantu memberikan tumpangan atau rumah tinggal sementara bagi anak sakit dan orangtuanya yang berasal dari luar kota, yang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar penginapan selama berada di Medan.

Semua fasilitas yang ada di Rumah Anak Sehat ini gratis. Semua anak penderita penyakit non infeksi dan menular, seperti kanker, talasemia, dan sebagainya yang berasal dari luar kota, dan berumur di bawah 17 tahun bisa menempati rumah sementara ini.

Kenapa Anda merasa perlu memberi tumpangan bagi pasien anak?

Entah mengapa, setiap kali mengunjungi anak yang penyakitnya sudah kronis, saya selalu bertanya, "Kenapa baru dibawa ke rumah sakit?" Dan mereka selalu memberikan jawaban yang sama ke saya, yaitu tidak punya dana yang cukup. Meskipun mereka kadang memiliki kartu jaminan kesehatan seperti Jamsostek atau sekarang BPJS namanya, namun mereka tetap tidak bisa membawa anaknya berobat karena harus memilikirkan biaya untuk tinggal di Medan.

Padahal, seharusnya penyakit anak bisa dideteksi sejak dini, sehingga bisa tertolong dan nyawanya bisa diselamatkan. Orangtua tidak harus menunggu kondisi anak parah dulu baru melakukan pengobatan. Nah, kehadiran Rumah Anak Sehat "Smilling Kids Foundation" ini diharapkan mampu menjadi penolong bagi para orangtua yang anaknya sakit untuk bisa berobat segera.

Tadi Anda mengatakan bahwa yayasan ini adalah obsesi lama yang baru terwujud sekarang. Apa sebetulnya alasan mendirikan yayasan ini, selain faktor ketidakmampuan pasien?

Alasan dasarnya, ya, memang itu, pengin membantu orangtua agar bisa cepat membawa anaknya berobat, khususnya yang dari luar kota Medan. Tapi, jika memang ada alasan lain yang menyebabkan orangtua terlambat membawa anaknya berobat, kami akan senang hati membantu orangtua pasien tersebut. Kita akan bantu memecahkan masalahnya. Misalnya, membantu mengurus BPJS, atau hal-hal lainnya.

Apa target dan berapa daya tampung Rumah Anak Sehat ini?

Target kami, anak yang dirawat bisa sembuh. Nah, untuk mendukung kesembuhan perlu diberikan konseling psikolog kepada orangtua dan anak. Kami harap kerja sama dengan rumah sakit yang telah dijalin berjalan lancar. Rumah tinggal sementara ini bisa menampung tujuh orang anak. Ada empat kamar termasuk ruang isolasi. Kami juga akan bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di kota Medan.

Bagaimana cara Anda memperkenalkan Rumah Anak Sehat ini ke masyarakat nantinya?

Tentu dengan melakukan sosialisasi. Dan untuk lebih menyosialisasikan Yayasan Rumah Anak Sehat "Smilling Kids Foundation" ke masyarakat, saya akan bekerja sama dengan puskesmas-puskemas yang ada di daerah, terutama yang letaknya di pelosok. Sebagai gambaran, yayasan ini membantu setiap anak yang menderita penyakit noninfeksi dan tidak menular, seperti kanker, lupus, dan sebagainya.

Sejak awal berkecimpung di dunia sosial, Anda selalu mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan anak. Punya alasan khusus mengapa lebih tertarik mengurusi kesehatan anak-anak?

Mungkin karena saya seorang ibu, jadi saya sering merasa tersentuh setiap kali melihat ada anak yang menderita.

Sebetulnya, apa saja kegiatan Anda sehari-hari?

Sehari-hari saya aktif di kegiatan sosial yang berhubungan dengan masalah anak-anak, terutama anak-anak yang menderita sakit pada stadium lanjut seperti kanker, lupus, dan penyakit berbahaya lainya.

Kapan awal mula berkecimpung di kegiatan ini?

Awal tahun 2000, saya iseng menelepon seorang teman yang waktu itu aktif di kegiatan sosial. Sekarang dia di Amerika. Oleh teman tersebut, saya diajak untuk menjenguk anak-anak sakit di rumah sakit. Karena nggak ada kegiatan, ya saya mau aja. Eh, lama-lama karena sering, saya jadi jatuh cinta. Saya merasa terpanggil. Terus saya berpikir, kenapa saya tidak melakukan hal yang bisa membuat beban mereka berkurang?

Setelah itu?

Nah, sejak saat itu, saya mulai aktif di kegiatan sosial, terutama yang berhubungan dengan anak-anak. Saya rajin mengunjungi pasien anak-anak yang tengah dirawat di rumah sakit, baik datang sendiri maupun bersama teman. Di rumah sakit, saya menjadi tempat "curhat" bagi anak-anak dan orangtua yang sakit. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Selain itu, saya juga berusaha mencarikan pemecahan masalah yang sedang mereka hadapi.

Sementara untuk organisasi sosial, awalnya, sih, sekadar ikut-ikutan untuk meramaikan, mengingat waktunya belum begitu full karena harus dibagi dengan mengurus suami dan anak-anak.

Selama berkecimpung di kegiatan sosial, apa saja kendala yang pernah Anda hadapi?

Kendala tentu saja ada. Berkecimpung di dunia sosial, apalagi yang kerjanya mengurusi orang sakit, jelas bukan pekerjaan yang ringan. Selain butuh kesabaran, waktu, juga butuh biaya yang besar. Namun, saya tak pernah merasa kesulitan untuk menjalankan aktivitas ini. Saya percaya, setiap niat yang tulus pasti akan dimudahkan. Beruntung saya punya banyak teman yang selalu siap membantu saya. Teman-teman relawan, dokter, pengelola, dan pemilik rumah sakit semuanya selalu siap membantu saya.

Tapi harap diketahui, organisasi yang saya geluti tak melulu diisi oleh orang-orang yang berkantong tebal, lo. Yang penting, dengan semangat dan ketulusan hati, kami selalu bisa mengatasi masalah.

Ngomong-ngomong, waktu Anda di luar lebih banyak dibandingkan dengan keluarga. Bagaimana tanggapan suami dan anak-anak?

Karena kegiatan yang saya lakukan bersifat positif, suami dan anak-anak sangat mendukung. Awalnya memang tak mudah juga membagi waktu. Makanya saya harus sesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dulu saya hanya bisa beraktivitas saat suami dan anak-anak tidak di rumah. Namun, seiring berjalannya waktu, saya akhirnya bisa mendedikasikan waktu lebih banyak bagi anak-anak yang memiliki masalah kesehatan.

Kini, anak-anak saya sudah mulai besar, jadi mereka mulai mengerti kegiatan saya. Selain itu, mereka, kan, juga punya kegiatan sendiri. Jadi, saya sekarang punya waktu luang yang banyak untuk beraktivitas di kegiatan sosial. Bahkan jika mereka punya waktu, sering juga ikut kegiatan yang saya lakukan.

Lantas, bagaimana dengan waktu untuk keluarga?

Memang saya tak punya banyak waktu luang. Begitu juga dengan suami saya yang berprofesi sebagai pengusaha properti di kota Medan. Namun begitu, bukan berarti saya tak pernah meluangkan waktu bersama keluarga. Bagi saya, keluarga adalah yang terpenting. Untuk itu harus ada kebersamaan di antara kami.

Saat saya merasa sedih atau kecewa dengan hal-hal yang saya hadapi, saya menjadikan keluarga sebagai tumpuan untuk mengadu, meskipun sekadar bercerita. Begitu juga halnya dengan anak-anak saya, Alexander dan Alice Faustine. Mereka menjadikan saya dan suami sebagai tempat curhat. 

Biasanya, apa yang Anda lakukan saat bersama keluarga?

Biasanya, waktu bersama keluarga saya habiskan dengan pergi berlibur. Soal tempat tergantung lamanya waktu libur. Jika waktu liburan panjang, biasanya saya dan keluarga memilih berlibur ke luar negeri. Tapi kalau cuma sebentar, saya pilih tempat yang dekat-dekat saja.

Defri Yenny

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.

TAG: #jenny ong