Ketika Anak-anak Berkebutuhan Khusus Berjuang dalam Ujian Nasional

Editor: Uda Deddy Adrian / nova.id
Selasa, 17 Mei 2016
Foto : Syahrul Munir
Tiga siswa tuna rungu, Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Ungaran tengah mengikuti Ujian Nasional

Tabloidnova.com - Dunia bisu, miskin kata-kata, dan miskin bahasa adalah kata yang pas untuk menggambarkan tiga siswa Sekolah Liar Biasa (SLB) Negeri Ungaran, Laurenita Hening Yovitasari (12), Agung Renal Saputra (12) dan Dwi citra narutama (12).

Sama halnya dengan ribuan siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Semarang lainnya yang hari ini mengikuti Ujian Nasional (UN), mereka juga tengah berjuang agar kompetensi akademiknya diakui oleh negera melalui ujian nasional.

Meski demikian, mereka tetap mendapatkan perlakuan khusus lantaran keterbatasan fisik mereka. Ketiganya adalah siswa berkebutuhan khusus tuna rungu.

"Bagi mereka ini, dunia sepi. Mereka miskin kata, miskin bahasa. Ketika membaca satu kata yang tidak tahu, maka seluruh kalimat putus maknanya. Jadi harus dijelaskan," ujar Kepala SLB N Ungaran, Asngari, Senin (16/5/2016).

Hari pertama UN SD ini, mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia sebanyak 50 soal dengan waktu pengerjaan 2 jam.

Untuk memastikan soal-soal dikerjakan tanpa kecurangan, panitia menempatkan dua pengawas dari sekolah yang berbeda. Tugas pengawas Ujian Nasional bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini memang sedikit berbeda dengan tugas pengawas untuk ujian nasional anak- anak pada umumnya.

Baca juga: Dirawat Di Rumah Sakit, Siswa Ini Jalani Ujian Nasional dengan Selang Infus di Tangan

Selain memastikan ijian berjalan dengan tertib, mereka juga membantu anak-anak ini memahami soal-soal ujian.

"Ngisi nomor peserta saja memang harus seteliti mungkin. Karena kemungkinan anak-anak seperti ini kan tidak mendengar, jadi mereka tidak bisa memahami untuk silang atau dilingkari, tadi saja hampir mencentang," kata Umi Yaniar Astri, salah satu pengawas dari SLB Wahid Hasyim Beringin.

Umi mengaku harus ekstra sabar mendampingi peserta ujian anak-anak SLB ini, sebab dengan keterbatasan fisik yang dimiliki mereka berpotensi melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

Umi menyebutkan,  pendampingan ini hanya sebatas membantu anak-anak memahami perintah dan soal-soal yang ada.

"Hanya memastikan mengisi nomor peseta, kemudian pembacaaan soal. Jadi misalnya ada satu kata saja yang abstak pada satu kalimat, sudah putus! mereka ndak tahu materinya apa. jadi kita pelan-pelan membacakan soalnya, perlakuan khususnya itu," katanya.

Keterbatasan bahasa yang menghambat para siswa berkebutuhan khusus dalam memahami soal-soal ujian ini tidak serta merta menjadi stempel bahwa anak-anak ini tidak mampu mengerjakan soal ujian.

Mereka tetap bersemangat untuk belajar dan mengikuti ujian asional yang masih akan berlangsung dalam dua hari kedepan. Apalagi kehadiran para pengawas khusus yang memahami karakter dan bahasa para siswa berkebutuhan khusus ini setidaknya dapat membantu kelancaran pelaksanaan ujian nasional anak-anak SLB.

Setidaknya hal itu bisa terbaca dari ekspresi salah satu peserta UN SLB, Laurenita Hening Yovitasari (12) saat ditanyai apakah dapat mengerjakan soal-soal UN.

Dengan bahasa isyarat Laurenita mengangguk tanda membenarkan peryataan tersebut. Penyelenggaraan UN SDLB di Kabupaten Semarang tahun ini diikuti oleh 4 siswa berkebutuhan khusus. Yakni 3 siswa SLB Negeri Ungaran dan satu orang siswa SLB Wahid Hasyim Beringin. Keempat siswa tersebut merupakan siswa tuna rungu.

Syahrul Munir / Kompas.com

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.