Inovasi Oleh-oleh Jogja, Selalu Dicari dari Masa ke Masa (2)

Editor: nova.id / nova.id
Kamis, 5 Mei 2011
Foto :

Dua Bersaudara

"Dua bersaudara yang bahu-membahu meneruskan bisnis Sang Ibu (Foto: Noverita) "

Bakpiapia Djogdja Lebih dari Yang Asli

Fokus pada brand Bakpiapia Djogdja (BD) Ibu Rasuna Z., itulah yang kini dilakukan kakak beradik, Marizna (28), General Manager BD, dan Tano Nazoenggi, Head of Marketing Communication BD. Meski merupakan perusahaan keluarga, tetapi di struktur organisasi BD ada beberapa posisi yang dijabat oleh tenaga-tenaga muda kreatif, inovatif, dan ulet dalam bekerja.

"Biasanya kalau ke Jogja, kan, orang cari bakpia pathok. Nah, sekarang kami ingin orang-orang juga menyebut BD sebagai oleh-oleh khas Jogja," ujar Marizna, putri pertama pasangan Rasuna dan Zuhad.

Usaha yang dimulai sejak Juni 2004 dari sebuah tempat sederhana di Sosro Menduran, Yogyakarta, kini makin berkembang dan sudah memiliki 45 karyawan, tujuh gerai di Jogja, dan satu gerai di Jakarta. Inovasi menjadi hal utama yang dilakukan Marizna dan Tano. Salah satu buktinya, selain mengandalkan bakpia rasa kacang hijau, cokelat, keju, serta pia rasa cokelat, keju, cappuccino, durian, nanas, pisang keju, BD juga memproduksi ampyang rasa cokelat, jahe, pedas manis, serta kacang oven Bangkok, karamel madu, dan pedas manis.

Jika biasanya ampyang kacang bertabur kacang berukuran besar-besar, ampyang buatan BD sengaja dipotong kecil-kecil dan memakai gula pasir hingga berbentuk karamel. "Untuk ampyang pedas, ditambah irisan daun jeruk dan cabai. Kami namai kepyar. Kalau dimakan, rasanya seger mak kepyar," kata Tano. Bahkan, ampyang ini bisa dijadikan bumbu pecel. "Tinggal diulek, sudah jadi bumbu pecel," imbuh Tano sambil tersenyum.

Pelayan yang baik, ramah, dan siap membantu selalu diberikan BD kepada pelanggan yang datang. "Monggo icip-icip" adalah sapaan khas para pelayan BD kepada pembeli. Tanpa kenal bosan, para pegawai BD pun akan menjelaskan jenis pia dan bakpia yang dijual. "Kami berikan sampel bakpia, ampyang oven, dan kacang oven untuk dicicipi lebih dulu. Tidak jadi beli juga enggak apa-apa. Suatu saat, kami yakin mereka akan berminat beli," uap Tano yakin.

BD juga rajin ikut pameran mulai dari di Jakarta Fair, masuk ke hotel-hotel ternama di Yogyakarta, muktamar, pertemuan tahunan, simposium, dan seminar. Demi menjaga kualitas, Marizna dan Tano pun sangat memperhatikan kemasannya. "Kami pakai logo Tugu dan motif batik sebagai ciri khas Yogyakarta. Kami ingin BD punya karakter sebagai jajanan unik yang layak dijadikan oleh-oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Slogan yang kami pakai, "Lebih dari Yang Asli"," papar Tano lagi.

Bakpia Jogja

"Beberapa produk Bakpiapia seperti pia, bakpia, ampyang (Foto: Noverita) "

Wariskan Bisnis

Dalam pembuatannya, BD tak menggunakan bahan pengawet. "Bakpia kacang hijau, karena agak basah, jadi hanya tahan lima hari. Sementara bakpia keju dan cokelat bisa tahan sampai 10 hari. Sedangkan pia, merupakan inovasi dari bakpia kacang hijau dengan filling dan topping beragam."

Menurut sang bunda, Ny. Rasuna, ia ingin menambah berbagai rasa lagi terutama buah-buahan segar. "Banyak sekali jenis buah-buahan yang bisa diisi. Bahkan saya ingin mencoba rasa asin, meski masih diuji coba dulu," ujar Ny. Rasuna yang siap menurunkan ilmunya kepada tiga anaknya. "Saya, kan, sudah tua. Sudah selayaknya mereka yang muda-muda meneruskan bisnis ini. Saya mau fokus di usaha apotek saja," kata Ny. Rasuna yang pernah mendapatkan penghargaan UKM Enterprenuer Award on Innovation 2010.

Diakui Tano, banyak yang berminat membeli waralaba BD, namun sementara ini belum dilakukan. "Kami harus menguatkan dulu brand-nya, baru berani jual waralaba." Uniknya, keluarga Rasuna dan Zuhad ini tak punya latar belakang bisnis. Ny. Rasuna berlatar belakang apoteker, Marizna berlatar belakang ilmu teknik. Sang ayah, Zuhad, jago mendesain, Tano berbekal ilmu komunikasi periklanan, dan adik bungsu Tano lulusan ekonomi akutansi.

Lalu, bagaimana mereka menjaga kekompakan? "Rapat direksi kami lakukan di rumah. Sambil nonton teve juga bisa sambil rapat. Ha ha ha... Begitu ada ide, bisa langsung dilontarkan," jelas Tano sambil tertawa.

Berbagai suka duka pun pernah dirasakan keluarga ini selama mengembangkan BD. "Kami pernah minta bantuan tukang becak untuk memperkenalkan BD ke wisatawan. Sayangnya, lama-lama mereka tidak fair, jadi kami hentikan kerja samanya. Pernah juga kami diminta mal besar di Jakarta untuk menjual BD di sana. Tapi harga yang diminta mahal sekali," kenang Marizna.

Toh, semua itu tak menyurutkan semangat mereka mengembangkan BD. Hasilnya, terbukti BD telah menjadi salah satu pilihan oleh-oleh dari Yogyakarta.

Noverita K. Waldan

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.