Imam Sukamto, Bangga Jadi Difabel Yang Keliling Nusantara

Editor: nova.id / nova.id
Jumat, 25 Oktober 2013
Foto :

Raut wajah Imam Sukamto (60) nampak letih namun penuh kebahagiaan, ketika ditemui tabloidnova.comdi kawasan Semanggi, Jakarta Pusat, Kamis (25/10). Ya. Imam adalah penyandang tuna daksa yang baru saja memasuki Jakarta hari Minggu (20/10) lalu setelah berkeliling nusantara dengan kursi rodanya. Kedatangannya ke Jakarta merupakan penghujung dari perjalanan Imam yang telah dimulainya sejak 3 November 2012 silam. Sebagai seorang penyandang tuna daksa, mengelilingi nusantara dari Papua sampai Sabang tentunya tidak bisa dibilang sepele. Apalagi, Imam melakukan perjalanan seorang diri. Hanya bermodalkan kursi roda yang sudah dimodifikasi menjadi sebuah sepeda.

 
 Ketika awal berangkat dari rumahnya di  Jalan Wonorejo Indah Timur III nomor 133, kelurahan Wonorejo, kecamatan Rungkut, Surabaya, Imam sudah bertekad akan menyelesaikan impiannya sejak lama. "Saya ingin  menikmati Indonesia,  dari Sabang sampai Merauke dalam bentuk fisik yang ada sebagai bentuk motivasi kecintaan saya terhadap tanah air," ungkap pria yang juga ayah 2 orang anak.

 Kendati harus meninggalkan istrinya, Sumini (57) dan 2 putra-putrinya,  Fian (28), Fina (23), Imam terus berjalan dan menuntaskan misinya mengelilingi Indonesia.Pria yang merupakan pensiunan karyawan sebuah pabrik pecah belah ternama di Surabaya ini memang sudah merencanakan semua sejak lama. Sadar akan keterbatasan dirinya, justru menjadi tekad tersendiri untuk melakukan perjalanan panjang tersebut.
 
 "Sejak usia 4 tahun, saya kena polio. Jadi sejak itu saya hanya bisa merangkak," kenang Imam akan masa lalu yang mengubah dirinya hingga sekarang. Walaupun hidup di atas kursi roda, Imam pantang menyerah dan terbukti dengan menjalani profesi sebagai penyeleksi produk untuk ekspor di PT Kedaung dengan riwayat kerja nyaris sempurna. Selama 30 tahun lebih, Imam bekerja dan membuktikan dirinya bermanfaat bagi orang lain kendati memiliki kekurangan. Dan, pekerjaannya dilakukan dengan tanpa pembedaan. "Saya dikasih kursi roda sama perusahaan, dan saya bekerja dengan jam kerja tetap sama dengan yang lain, bahkan kerja shift pun saya ikut," ungkapnya bangga.

 Saat berangkat dari rumah November tahun lalu, Imam sudah mengantongi surat dari kelurahan hingga Gubernur Jawa Timur untuk perjalanannya. Dari kota tempat tinggalnya, Imam berjalan menuju kota Pasuruan. Dari sana Imam menyusuri jalur timur menuju Banyuwangi hingga menyeberang ke Bali. Dari Bali, Imam menyeberang ke Lombok, Sumbawa, Flores, Larantika, lalu kembali ke Maumere. Imam lalu menyeberang ke Makassar dan hingga Sorong, Papua. Dari Papua Imam lanjut ke Ternate, Baubau, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, Buntoh, Palangkaraya, Sampit, Pangkalanbun, Pontianak, Pulau kijang, Tanjung Pinang, Bbatam, Medan hingga ke  titik nol (Sabang). "Sabtu malam saya sampai di Jakarta, sempat bermalam di Monas," ungkapnya senang.

 Jika ditanya kesulitan yang dihadapi, Imam mengaku sedikit terkendala dengan medan jalan di beberapa wilayah Indonesia yang naik turun. Selain itu, kalau hendak menumpang bis, Imam harus tahu diri dengan kondisinya yang tak selalu diterima. "Selain itu, kalau pakai angkutan, saya harus bongkar pasang sepeda masuk dan naikin sepeda ke bus. Ya jadinya, kalau sepi baru dinaikin," kenangnya.

 Sedangkan untuk istirahat, Imam terkadang menginap di rumah kost, masjid, kantor polisi juga terkadang di rumah warga. "Sekali saja saya menginap di rumah warga, itu ketika saya sedang di Lombok," tukasnya lagi.
 
 Selama perjalanan, Imam juga tak membawa banyak bekal dan obat-obatan. "Kalau sakit ya, makan enak sama istirahat saja," ujarnya membeberkan rahasia sukses perjalanan.
 
 Dan, untuk memelihara semangat tetap menyala, setiap ??pagi dan sore dirinya menyempatkan menelpon anak dan istrinya. "Istri selalu ingatkan saya agar tetap semangat, enggak usah tergesa, santai saja sampai tujuan. Kalau anak-anak selalu ingatkan saya untuk makan," ungkapnya senang.Dan begitulah, hari-hari Imam selama setahun didedikasikan untuk mengelilingi nusantara.

 Saat ditanya maksud dari perjalanan tak singkat yang dilakukannya, Imam menuturkan jika dirinya memulai tekad melakukan aksi ini karena merasakan kurangnya perhatian pemerintah akan fasilitas untuk penyandang difabel. "Padahal Indonesia ini meratifikasi konvensi PBB soal hak penyandang cacat. Tapi belum melaksanakan hak sesuai yang ada. Terutama memberikan pembangunan yang merata kepada kaum penyandang cacat di bidang pendidikan, lapangan kerja, aksesibilitas, fasilitas jalan untuk penyandanag cacat, fasilitas umum bagi penyandang cacat," ujar Imam prihatin karena dirinya merasakan banyak kesulitan sebagai penyandang cacat terutama soal fasilitas dan akses.

 Saat ditanya, apa yang ingin dilakukannya di Jakarta, dengan tersenyum Imam menyatakan ingin bertemu Jokowi dulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke  Surabaya."Saya ingin pose untuk foto sama Pak Jokowi. Soalnyasaya mendukung semangatnya supaya tidak terpengaruh apa-apa," pungkasnya.

 
 Laili

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.