Inilah Gangguan Perut pada Anak yang Harus Diwaspadai

Editor: nova.id / nova.id
Rabu, 8 April 2015
Foto :

Tabloidnova.com - Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010 mengungkapkan, sejumlah penyakit yang diakibatkan oleh gangguan saluran pencernaan masih menjadi penyebab terbesar kematian (sebesar 35,9 persen) pada anak usia 0-59 bulan di Indonesia.

Melihat fakta berdasarkan data ini, tak heran bila sejumlah pakar yang tergabung dalam Happy Tummy Council memiliki perhatian sangat tinggi terhadap kesehatan saluran cerna anak. Lantas, mengapa happy tummy atau perut yang sehat dan nyaman menjadi sangat penting bagi anak?

"Saluran pencernaan bukan sekadar perangkat untuk mencerna makanan saja, tapi merupakan perangkat fundamental yang dapat menentukan masa depan anak-anak Indonesia," papar Prof Dr M. Juffrie, SpA (K), PhD.

Saluran cerna, lanjut Juffrie, adalah organ tubuh yang memiliki fungsi mencerna makanan hingga menjadi bagian-bagian teramat kecil, di mana bagian terkecil ini selanjutnya diserap oleh tubuh untuk menutrisi seluruh bagian tubuh.

"Oleh karena itu, fungsi penyerapan dalam tubuh harus selalu bagus. Dengan kata lain, fungsi penyerapan yang bagus hanya dapat dimiliki dengan saluran cerna yang juga sehat. Itulah yang disebut happy tummy atau perut yang sehat dan nyaman," papar Juffrie.  

Sebuah riset menunjukkan, karena sistem pencernaannya belum berfungsi dengan baik, maka anak usia 0-5 tahun rentan mengalami gangguan saluran pencernaan. Di antaranya gangguan malnutrisi, diare, kolik, dan konstipasi.

Sebagai pakar gastrohepatologi, Juffrie juga memaparkan, ada tujuh gangguan pencernaan fungsional yang dapat dialami anak sejak usia bayi dan perlu diwaspadai oleh orangtua, yakni:

1. Regurgitasi (refluks atau gumoh). "Dapat terjadi beberapa kali per hari pada bayi usia 1-2 bulan. Masih dapat dikatakan normal jika berat badan bayi naik. Namun jika gumoh disertai berat badan tidak naik, muntah, sering batuk, asma, dan infeksi paru, segera bawa ke dokter."

2. Sindroma Menguyah. "Bayi yang mulai makan atau mendapatkan MPASI pada usia 6 bulan, biasa mengalami sindrom mengunyah, lantaran sistem pencernaannya belum sempurna benar.

3. Sindroma Muntah Berulang. "Akibat gerakan usus yang terganggu (mutilisasi) atau akibat fungsi usus yang belum sempurna pada bayi."

4. Kolik. "Sangat mengganggu kenyamanan saluran penceranaan. Waspadai jika bayi terus menangis selama 3 jam tanpa henti setiap hari dan berlangsung tiga kali seminggu dalam tiga bulan. Segera bawa ke dokter."

5. Diare Fungsional. "BAB cair lebih dari tiga kali dalam sehari yang dapat diakibatkan oleh saluran cerna yang belum sempurna."  

6. Dyschesia. "Sakit perut yang mirip dengan ingin BAB, tetapi bukan BAB. Biasanya terjadi 10 menit sebelum betul-betul BAB.

7. Sembelit Fungsional. "Dalam waktu satu minggu BAB kurang dari dua kali, disertai perut kembung, mual, dan muntah."

Semua gangguan yang disebut di atas, kata Juffrie, jika dialami oleh si kecil dan tidak segera mendapatkan pertolongan segera, dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak di masa depannya.

"Selain menyebabkan ketidaknyamanan pada saluran cerna anak, ketujuh gangguan tadi juga dapat mengubah mikroorganisme di dalam usus anak. Akibat lebih jauhnya, dapat berpengaruh pada perkembangan otak anak, sehingga mengganggu kemampuan kognitif dan intelektualitas anak," tandas Juffrie.

Intan Y. Septiani

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.