Cara Mengenali Gaya Belajar Anak: Visual, Auditory, atau Kinestetik?

Editor: Ade Ryani HMK / nova.id
Rabu, 2 November 2016
Foto : istock
Ada 3 gaya belajar yang lazim ditemui yaitu visual, auditory, kinestetik. Mana yang disukai anak Anda?

Terdapat berbagai faktor yang turut menentukan prestasi seorang anak di sekolah. Mulai dari potensi kecerdasan (IQ), motivasi internal dari anak, gaya belajar yang disukai, kematangan sensori-motorik atau tumbuh kembang anak, kondisi emosi atau psikologis anak, metode pengajaran yang ada di sekolah dan juga motivasi eksternal dari orangtua dan guru.

Seringkali kita menemukan, Si Kakak lebih suka belajar sambil mendengar musik, sementara Si Adik akan bersemangat jika belajar dengan gambar. Maka tugas orangtualah untuk menemukan gaya belajar anak yang sesuai agar proses penyerapan informasi optimal.

“Gaya belajar anak ini bisa pula menjadi salah satu faktor pemicu prestasi anak,” kata Ine Indriani Aditya, M.Psi., Psikolog.

Sebab tidak semua anak memiliki minat dan bakat terhadap seluruh pelajaran di sekolah. Misalnya, ada anak yang memiliki minat bakat IPA, tapi ada juga yang mengalami kesulitan.

“Nah, cara untuk memudahkan menangkap pelajaran dan juga mengasah minatnya salah satunya dengan belajar sesuai dengan gaya belajar anak.”

Secara umum, gaya belajar yang dikenal ada 3 macam:

1. Visual

Menggunakan ketajaman visual dalam proses belajar, misalnya melalui slide, kartu, gambar, film, tulisan, melihat mimik wajah guru, mind mapping.

Kelebihan: Lebih peka terhadap warna, tidak mudah terpengaruh dengan suara berisik, rapi, teratur, teliti, baca cepat, mengingat dengan asosiasi visual, perencana yang baik.

Kekurangan: Tidak mudah memahami instruksi verbal.

Strategi belajar: Menggunakan media visual atau gambar, multimedia, menggunakan warna-warna atau stabilo, mind-mapping, mencatat dengan gambar.

Baca: Intip Potensi Si Kecil Lewat Jarinya

2. Auditory

Mengandalkan pendengaran dalam belajar, yaitu dengan cara mendengarkan penjelasan orang lain, belajar dengan suara yang agak keras agar ia bisa mendengarkan suaranya sendiri, menggunakan tape recorder, diskusi.

Kelebihan: Senang berdiskusi, mudah menerima instruksi verbal, pembicara yang fasih.

Kekurangan: Mudah terusik dengan keributan, tidak mudah menerima instruksi visual.

Strategi: Menggunakan tape recorder, mendengarkan penjelasan guru, diskusi, belajar dengan suara keras, diskusi, sambil mendengarkan musik.

3.Kinestetik

Dalam belajar perlu banyak bergerak, bekerja, dengan menyentuh.

Kelebihan: Bicara perlahan, tidak mudah terusik dengan keributan.

Kekurangan: Butuh belajar dengan aplikasi langsung atau merasakan, terkesan tidak dapat diam, butuh jeda istirahat untuk bergerak.

Strategi: Jeda istirahat untuk bergerak, belajar sambil bergerak, hindari belajar berjam-jam.

Baca: Agar Anak Giat Belajar di Rumah

Ada 5 Dimensi

Sementara Dunn and Dunn membagi gaya belajar menjadi lebih kompleks ke 5 dimensi yang disebutkan di atas. Gaya belajar tidak hanya mencakup auditori, visual, dan kinestetik semata, namun terdapat dimensi lainnya yang bisa diobservasi oleh orangtua.

1. Dimensi Lingkungan

Elemen suara: Apakah anak lebih cocok belajar dengan suara yang tenang, berisik atau dengan musik?

Elemen pencahayaan temperatur: Apakah anak lebih nyaman dengan pencahayaan yang terang atau agak lebih redup, suhu udara yang dingin, sedang, panas?

Elemen tempat duduk dan desain: Apakah lebih nyaman belajar dengan tempat duduk dan desain yang formal (dengan belajar di meja belajar), atau informal (tanpa meja belajar).

2. Dimensi Emotional

Elemen motivational support: Apakah anak membutuhkan emotional support?

Elemen persistence individual: Apakah anak bisa bertahan menyelesaikan tugas?

Elemen responsibility: Apakah anak sudah bisa bertanggung jawab?

Elemen structure: Apakah anak membutuhkan struktur dalam belajar?

Baca: 7 Cara Ajarkan Sopan Santun Pada Anak

3. Dimensi Sociological

Elemen individual pairs or teams: Apakah anak lebih mudah belajar sendiri atau bersama-sama dengan anak lain?

Elemen adult: Apakah anak masih membutuhkan arahan orang dewasa?

Elemen varied: Apakah anak memiliki kebutuhan yang bervariasi?

4. Dimensi Physiological

Elemen perceptual: Apakah gaya belajar anak auditori, visual, tactual (sentuhan) atau kinestetik?

Elemen intake: Apakah anak membutuhkan snack atau camilan saat belajar?

Elemen time: Kapan waktu belajar anak yang paling optimal, pagi, siang, sore, malam.

Elemen mobility: Apakah anak membutuhkan kebebasan bergerak selama belajar?

Baca: Umur Berapa Anak Boleh Pakai Kalkulator untuk Belajar Matematika?

5. Dimensi Psychological

Elemen global analytical: Bagaimana cara anak melihat atau berpikir dalam penyelesaian masalah, apakah secara global atau secara analytical?

Elemen impulsive reflective: Apakah anak cenderung langsung lompat ke permasalahan atau tugas, atau cenderung berpikir sejenak sebelum memulai tugas atau melihat permasalahan?

Dua Metode

Sekolah yang sesuai dengan gaya belajar anak adalah sekolah yang memerhatikan metode pengajaran dan pembelajaran yang disesuaikan dengan tumbuh kembang anak. “Misalnya, semakin anak kecil, semakin ia membutuhkan metode pembelajaran yang bersifat konkret dan bersifat kinestetik.”

Setelah memasuki sekolah dasar, anak mulai bisa belajar dengan visual, auditory maupun tactile atau perabaan.

“Sekolah juga perlu mempertimbangkan karakteristik unik setiap anak, dimana setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Tidak hanya sekadar perbedaan gaya belajar secara psikologis (visual, auditori, kinestetik), tapi perbedaan gaya belajar anak secara kondisi psikologis, emotional support, lingkungan dan juga sociological-nya.”

Baca: Ibu, Ajari Anak Usia Sekolah 10 Sikap Mandiri Ini, Ya!

Sebagai contoh, sekolah alam membuat anak dengan gaya belajar kinestetik menjadi lebih mudah untuk bergerak dan belajar dengan aplikasi langsung. Semakin kecil usia anak (di bawah 6 tahun), ia cenderung lebih banyak membutuhkan gaya belajar kinestetik yang sejalan dengan tumbuh kembang sensori motoriknya.

Oleh karena itu, sebaiknya sekolah menyediakan kegiatan pembelajaran yang banyak melakukan aktivitas kinestetik pula.

Ada juga sekolah yang mengutamakan pembelajaran konkret yang bisa memfasilitasi gaya belajar auditori visualnya, seperti montesori dan kebanyakan sekolah di Indonesia. Bila anak cenderung visual, bisa ke sekolah yang sifatnya “duduk manis” dengan mengandalkan membaca dapat mendukung proses belajarnya.

“Terpenting, perlu peran serta orangtua untuk mengenal dan mengobservasi gaya belajar anak, serta mengajarkan anak dengan metode belajar yang sesuai tersebut,” tegas Ine.

Noverita K. Waldan/NOVA

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.