Main di Rumah Teman Tak Selalu Aman, Ini Cara Agar Anak Tak Jadi Korban Kejahatan

Editor: Ade Ryani HMK / nova.id
Rabu, 28 Desember 2016
Foto : the insquistr
Rumah tak melulu jadi tempat teraman. Lakukan 5 hal ini untuk cegah anak jadi korban kejahatan.

Peristiwa keji dalam kasus penyekapan dan pembunuhan yang terjadi di sebuah rumah mewah di kawasan Pulomas, Jakarta Timur, menyedot perhatian publik dalam dua hari terakhir.

Dalam kejadian tersebut ditemukan 11 orang yang menjadi korban penyekapan di dalam kamar mandi berukuran 1,5 meter x 1,5 meter persegi pada Selasa (27/12). Kehabisan napas, 6 di antaranya meninggal dunia. Sedangkan 5 lainnya ditemukan selamat.

Korban meninggal adalah sang pemilik rumah Dodi Triono (59), Diona Arika (16), Dianita Gemma (9), Amel yang merupakan teman anak korban, serta Yanto dan Tasrok yang merupakan sopir keluarga. Sementara itu, Zanette Kalila (13) ditemukan masih hidup bersama Emi, Santi (22), dan Fitriani serta Windy.

Ibunda Amel, Rosy Herawati, begitu syok saat mendapati putrinya menjadi salah satu korban tewas di rumah sahabatnya sendiri, Gemma, yang juga putri dari Dodi Triono.

Ia menuturkan, putrinya dan Gemma memang teman karib. Amel sering menginap dan bermain di rumah Gemma. "Dia kalau nginep di rumah Gemma selalu komunikasi. Malam kasih info, 'Aku lagi nonton, aku lagi ini dengan Gemma'," kenang Rosy yang juga karyawan dari mendiang Dodi ini.

Ibu Amel, Rosy Herawati, menceritakan persahabatan putri sulungnya dengan Gemma.
Ibu Amel, Rosy Herawati, menceritakan persahabatan putri sulungnya dengan Gemma.

Bahkan, saat terakhir berkomunikasi dengan Rosy pada Senin (26/12/2016) siang, Amel juga bercerita tentang Gemma saat bermain di rumah sahabatnya itu. Kepada Rosy, Amel mengirim pesan singkat bahwa Gemma sedang menangis.

Setelah Rosy membalas pesan Amel, tak ada lagi balasan apa pun dari putrinya yang duduk di kelas IV SD itu. "Pas habis bilang Gemma menangis, saya balas. Itu pukul 14.00, Senin siang, sudah terputus," ucap Rosy yang menganggap kematian tragis putrinya sudah ditakdirkan oleh Tuhan. “Saya ikhlas.”

Terkait kejadian yang menimpa Amel, sejumlah orangtua pun merasa bersimpati. Terlebih mereka yang memiliki anak remaja. Tentu ada kekhawatiran terhadap aksi kejahatan yang bisa terjadi kapanpun dan dimana pun. Bahkan, didalam rumah sekalipun yang seringkali dianggap tempat teraman.

“Enggak nyangka, kejadian ini bikin saya harus makin waspada. Walaupun dua putra sudah SMP tetap saya harus kontrol pergaulan mereka,” ungkap Diah Rahmawati (43), seorang karyawati swasta saat dimintai pendapatnya oleh Tabloidnova.com.

Lebih lanjut, Diah mengatakan, meski kedua anaknya laki-laki, ia tetap mengawasi mereka dengan mengantarjemput saat mereka pergi kemanapun. “Kalau pulang tidak malam-malam, telepon orangtua teman anak-anak juga kita mesti tahu, siapa mereka, apa pekerjaannya, dimana rumahnya. Kalau perlu kita antar jadi tahu persis lokasi rumahnya.”

Jangan lupa rajin cek keberadaan anak-anak lewat telepon. “Termasuk cek ke orangtua teman anak kita, sedang apa mereka, ada di rumah atau tidak. Mungkin terkesan bawel, tapi demi keselamatan saya pikir tidak apa-apa,” ujarnya berbagi pengalaman.

Hal senada juga diungkapkan oleh Indah Nastiti (32), ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Menurutnya penting untuk membekali anak tentang apa yang harus dilakukan dalam keadaan genting. “Apa tandanya, harus bagaimana, menghubungi siapa. Ajarkan anak soal itu,” ujarnya.

Mengingat remaja atau ABG di usia SD, SMP, SMA memiliki pergaulan yang lebih luas dari anak balita, ia juga mengingatkan sebagai orangtua memang boleh memberi kebebasan pada anak, tapi jangan lupa mengecek dengan intens keberadaan anak.

“Dimanapun dan jam berapa pun anak harus bisa dihubungi. Harus ada kesepakatan antara ortu dan anak, kalau anak ditelepon orangtua harus diangkat.”

Disamping itu, penting pula untuk mengenal dekat teman-teman anak. “Apalagi jika suka menginap dan main bareng. Catat nomor kontak teman si anak dan orangtuanya buat jaga-jaga. Kalau telepon tidak bisa dihubungi, datangi. Cek atau telepon tiap 3 jam juga tak ada salahnya. Mungkin menyebalkan buat mereka yang sudah remaja. Tapi, zaman sekarang memang ortu harus lebih was-was,” kata Indah lagi.

Baca: Tanpa Firasat, Ibunda Kenang Persahabatan Amel dan Gemma Sebelum Tewas Mengenaskan di Pulomas

Dua pendapat tadi pun diperkuat dengan pandangan psikolog Reynitta Poerwito, Bach. of Psych., M.Psi. Menurutnya, orangtua memang sudah seharusnya tahu persis kemana dan dengan siapa anaknya berkegiatan.

Dan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, para orangtua dapat menerapkan 5 cara ini dalam keseharian:

1. Kenal orangtua teman

Saat anak sudah bersekolah dan mandiri, orangtua harus lebih peduli dengan siapa mereka bergaul. Usahakan mengenal orangtua teman si anak dan menjalin komunikasi yang baik. Selalu bertukar nomor telepon dan mengetahui lokasi rumah mereka adalah cara yang benar.

“Jadi ngecek itu bisa saja bukan lewat anak, tapi ke orangtua teman si anak atau juga bisa ke rumah temannya itu,” ujar psikolog yang berpraktek di RS Eka Hospital BSD City ini.

2. Komunikasi baik dengan anak

Biasakan sejak kecil untuk ngobrol dengan anak, komunikasi yang baik membuat anak tanpa diminta mau bercerita pada orangtua. Baik saat melaporkan keberadaan maupun keadaan mereka ketika tidak sedang bersama kita. “Lebih enak jika inisiatif itu datang dari anak daripada orangtua yang selalu menelepon.”

Baca: Menginap di Rumah Gemma, Ini SMS Terakhir Amel pada Ibunda Sebelum Tewas di Pulomas

3. Agar anak remaja (ABG) dekat dengan orangtua

Biasanya saat remaja, anak akan sedikit menjaga jarak atau risih jika terlalu banyak cerita pada orangtuanya. Menghadapi kondisi yang sering terjadi ini, Reynitta menyarankan agar sejak anak masih balita sudah mendekatkan diri dengan mereka. Sehingga terjalin kedkatan batin antara anak dan orangtua.

“Kalau kedekatan batin ini sudah terbentuk dari kecil tentu akan sulit pudar. Jadi, ketika mulai remaja anak tak akan sungkan terbuka soal kegiatannya (bercerita).”

4. Kode emergency

Selalu berikan pengetahuan bagaimana anak harus bertindak saat menghadapi situasi darurat. Misalnya, masukan nomor telepon orangtua, nomor polisi, pemadam kebakaran, rumah sakit, dsb di speed dial pada ponselnya. Hal ini bertujuan agar anak mudah menghubungi nomor penting dalam kondisi bahaya.

Aktifkan pula fitur GPS dan pelacak lokasi ponsel yang terhubung dengan gadget orangtua. “Jadi sewaktu-waktu hilang kontak, kita bisa tahu keberadaan anak.”

Baca: Tips Bijak Agar Anak Aman Gunakan Media Sosial

5. Bekali ilmu bela diri

Ada baiknya anak perempuan maupun laki-laki dibekali ilmu bela diri atau trik untuk melarikan diri atau berkelit dari penjahat. Beri pemahaman pada anak tanda-tanda orang yang melakukan serangan untuk tujuan buruk.

Sewaktu-waktu berikan simulasi antara orangtua dan anak. Misalnya, saat kondisi dikurung atau disekap, anak harus berteriak minta tolong atau belajar cari jalan keluar dengan pecahkan jendela. “Skill ini harus sudah terlatih sebelumnya, supaya anak tidak bingung dan ketakutan hingga ia mengikuti perintah penjahat.”

Penulis : Ade Ryani HMK

Soulful Writer at Tabloid NOVA since 2010.