Bagaimana Bila Ibu dan Anak Berteman di Media Sosial?

Editor: nova.id / nova.id
Kamis, 26 Februari 2015
Foto :

Tabloidnova.com - Perkembangan teknologi dan dunia digital begitu cepat berubah dan sangat canggih. Terkadang, orangtua sulit mengikutinya.

Sementara di sisi lain, anak-anak dan remaja masa kini semakin mudah mengakses dunia digital melalui ponsel pintar atau gadget mereka.

Lebih dari itu, gempuran berbagai platform media sosial pun seolah tak terbendung dan semakin sulit untuk dihindari.

Mau tak mau, orangtua di zaman sekarang harus bisa 'berdamai' dengan fenomena media sosial di kalangan anak-anak dan remaja, kendati tetap harus bijaksana dalam mengawasi anak-anak saat berkegiatan dengan akun media sosial.

Jangan ragu-ragu untuk bergabung dan membuat akun media sosial, kemudian bertemanlah dengan anak. Ini bisa menjadi salah satu cara mengawasi anak. Selain itu, orangtua juga dituntut untuk tahu lebih jauh fitur-fitur tertentu yang disediakan dalam setiap akun media sosial yang dimiliki anak-anak mereka.

Di antaranya, meski Anda dan buah hati telah berteman di berbagai media sosial, perlu diketahui bahwa ada media sosial yang memiliki fitur bersifat privacy, seperti inner circle pada Path atau lock post pada Facebook. Fitur-fitur bersifat privacy ini memungkinkan orangtua untuk tak bisa melihat apa yang diunggah anak-anaknya di media sosial.

Lantas, bagaimana bila ibu dan anak berteman di media sosial? Amalia Sari Utomo, creative director sebuah digtal agency dalam workshop "Parenting in Social Media" mengatakan,"Tugas orangtua untuk memberi pemahaman mengenai apa fungsi fitur-fitu itu. Serta, bagaimana efeknya jika anak-anak merahasiakan apa yang diunggahnya ke orangtua mereka," papar Amalia.  

Menurut Amalia, bila ibu dan anak berteman di media sosial, sebenarnya banyak cara untuk mengawasi pergaulan anak-anak di media sosial tanpa membuat mereka terganggu. Salah satunya, saling sharing dengan orangtua teman-teman si anak dan bertukar informasi yang diketahui, sehingga membuat para orangtua terus up-to-date.

Atau, "Bertanya langsung kepada anak dengan santai dan dipancing dengan topik yang menarik tentang media sosialnya. Agar mereka mau lebih terbuka dan bercerita tentang apa yang diutarakan di media sosial. Jangan lupa, GPS lokasi dari media sosial anak-anak juga sebaiknya dimatikan, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan."

Selain itu, para orangtua juga dapat mengedukasi anak-anak dan remaja mereka tentang kegunaan media sosial untuk usianya. Ada baiknya pula anak-anak diberi pengetahuan tentang risiko dan bahayanya bermedia sosial, agar mereka bisa mengantisipasi jika sesuatu terjadi pada mereka.

"Tak perlu mengajari secara detail dan menyeluruh, cukup beri pemahaman simpel seperti memberitahu anak untuk menambah teman baru yang sudah dikenal saja, menolak ajakan kopi darat oleh orang yang baru kenal di dunia maya, tidak meng-klik link yang tidak jelas, dan jangan memasukkan data diri seperti alamat, nomor telepon, atau tempat bersekolah, di media sosial. Ingatkan juga kepada anak untuk memakai password yang cukup sulit untuk ditebak orang lain."

Sekali lagi, kata Amalia, media sosial tak selalu akan berdampak negatif untuk anak. "Media sosial juga bisa menjadi jendela orangtua untuk lebih mengetahui apa yang ada di pikiran anak. Sebaliknya, untuk anak, media sosial juga bisa menjadi jembatan bagi dia menemukan jati diri atau minat yang disukainya, sehingga dia akan bertemu komunitas hobi yang dapat mengakomodasi minatnya," tandas Amalia.

Intan Y. Septiani/Tabloidnova.com

Penulis : nova.id

Tabloidnova.com, situs wanita paling lengkap yang menyajikan berita terkini seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehatan, profil, keluarga, karier, griya, zodiak horoskop secara inspriatif.